Kamis, 04 Maret 2021

MENILAI KARYA MELALUI KRITIK DAN ESAI

 

MENILAI KARYA MELALUI KRITIK DAN ESAI

A.    Pengertian Kritik dan Esai Sastra

Kritik sastra merupakan analisis terhadap suatu karya sastra untuk mengamati atau menilai baik-buruknya suatu karya secara objektif. Sedangkan esai merupakan karangan singkat yang membahas suatu masalah dari sudut pandang pribadi penulisnya. Masalah yang dibahas dalam esai merupakan masalah yang aktual dari berbagai bidang seperti kesusastraan, kebudayaan, iptek, atau politik.

Lebih luasnya, Widyamartaya dan Sudiati berpendapat bahwa kritik sastra adalah pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat, dan pertimbangan yang adil terhadap baik-buruknya kualitas, nilai, kebenaran suatu karya sastra. Memberikan kritik dan esai dapat bermanfaat dalam memberikan  panduan yang memadai kepada pembaca  tentang kualitas sebuah karya. Di samping itu, penulis karya tersebut akan memperoleh masukan, terutama tentang kelemahannya.

 

B.     Prinsip dalam menyusun kritik dan esai

  1. Pokok persoalan yang dibahas harus layak untuk diulas. Hasil ulasannya pun harus memberikan keterangan atau memperlihatkan sebab-musabab yang berkaitan dengan suatu peristiwa yang nyata. Jadi, yang terpenting bukan apa yang diulas, tetapi bagaimana cara penulis memberikan ulasannya.
  2. Pendekatan yang digunakan harus jelas,  apakah persoalan  didekati dengan pendekatan faktual atau imajinatif.
  3. Ulasan yang menggunakan pendekatan faktual harus didukung oleh fakta yang nyata dan objektif. Penulis tidak boleh mengubah fakta untuk mendukung pandangannya. Pernyataan yang diungkapkan harus jelas, tidak samar-samar, harus dapat dipercaya, tidak disangsikan atau disangkal, dan dapat dibuktikan kebenarannya.
  4. Pernyataan yang diungkapkan harus jelas, jangan samar-samar, harus dapat dipercaya, tidak disangsikan atau disangkal, dan dapat dibuktikan kebenarannya.

 

C.     Ciri-Ciri Kritik Sastra dan Esai

  1. Ciri-ciri Kritik Sastra yaitu:

-          Memberikan tanggapan terhadap hasil karya.

-          Memberikan pertimbangan baik dan buruk (kelebihan dan kekurangan) sebuah karya sastra.

-          Pertimbangan bersifat obyektif.

-          Memaparkan kesan pribadi kritikus terhadap sebuah karya sastra.

-          Memberikan alternatif perbaikan atau penyempurnaan.

-          Tidak berprasangka.

-          Tidak terpengaruh siapa penulisnya.

 

  1. Ciri-ciri Esai yaitu :

-          Berbentuk prosa.

-          Singkat, dapat dibaca dengan santai dalam waktu dua jam.

-          Memiliki gaya pembeda.

-          Selalu tidak utuh.

-          Memenuhi keutuhan penulisan.

-          Mempunyai nada pribadi atau bersifat personal.

 

D.    Membandingkan Kritik dengan Esai

Kritik merupakan suatu ungkapan penilaian terhadap suatu karya dengan didasari analisis yang mendalam. Selain menilai, biasanya kritik sastra juga memiliki fungsi untuk mengkaji dan menafsirkan karya sastra secara lebih luas.

Kritik sastra dihasilkan oleh kritikus sastra. Karenanya, penting bagi seorang kritikus sastra untuk memiliki wawasan mengenai ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan karya sastra, sejarah, biografi, penciptaan karya sastra, latar belakang karya sastra, dan ilmu lain yang terkait. Kritik sastra memungkinkan suatu karya dapat dianalisis, diklasifikasi dan akhirnya dinilai. Sebuah kritik sastra yang baik harus menyertakan alasan-alasan dan bukti-bukti baik langsung maupun tidak langsung dalam penilaiannya.

 

Secara garis besar, kritik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Bersifat menanggapi atau mengomentari karya orang lain.
  2. Menunjukkan kelebihan dan kekurangan.
  3. Memberi saran perbaikan.
  4. Bertujuan menjembatani pemahaman pembaca/ apresiator/ apresian dengan karya sastra bersangkutan.

 

Sementara itu, esai adalah suatu cara pandang terhadap suatu objek atau peristiwa, dan ini tidak selalu terhadap karya. Esai pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh H.B Jassin, setelahnya ini menjadi sangat terkenal. Menulis esai sangat penting untuk melatih kemampuan dalam dunia kepenulisan, karena di dalam esai terkandung opini penulis yang disertai dengan teori ataupun data yang benar.

Menulis esai yang baik dalam hal ini enak dibaca dan lebih menarik dibutuhkan pemahaman yang mendalam mengenai bagian yang ada di dalam esai. Seperti pendahuluan, yang berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar tentang subyek yang akan dinilai oleh si penulis. Setelah itu ada tubuh esai, yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek. Terakhir, bagian akhir, yang berisi kesimpulan yang menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau beberapa observasi tentang subyek yang dinilai oleh si penulis.

 

Kritik dan Esai memiliki ciri masing-masing. Jika kritik lebih bersifat menanggapi atau mengomentari, esai lebih ke opini pribadi. Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa ciri esai yang perlu diketahui:

  1. Berbentuk prosa
  2. Singkat, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk membacanya
  3. Memiliki gaya tersendiri yang menjadi pembeda
  4. Tidak utuh
  5. Memenuhi keutuhan penulisan
  6. Bersifat personal

 

Dalam mengidentifikasi unsur kritik sastra dan esai, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui.

Kritik

1.      Terdapat kelebihan dan kekurangan

2.      Bersifat objektif

3.      Dilengkapi kajian teori

 

Esai

1.      Menggunakan sudut pandang pribadi atau bersifat subjektif

2.      Tidak hanya menilai karya, tetapi juga menilai kehidupan sehari-hari bahkan bisa imajinasi penulis

 

 

 

E.     Menyusun Kritik dan Esai

Dalam menyusun kritik, ada beberapa hal yang harus dipegang oleh kritikus (penulis kritik). Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Penulis kritik (kritikus) harus benar-benar membaca atau mengamati karya yang akan dikritik.

Hal ini bertujuan supaya apabila seorang kritikus sedang mengkritik ia sudah tahu pasti apa yang akan dikritik, sehingga tidak asal-asalan memberikan suatu kritikan.

  1. Kritikus harus membekali diri dengan pengetahuan tentang karya yang akan dikritisi.

Sama seperti sebelumnya, membekali diri dengan pengetahuan akan suatu karya yang akan dikritisi akan memudahkan bagi kritikus dalam menyampaikan pendapatnya.

  1. Kritikus harus mengumpulkan data-data penunjang dan alasan logis untuk mendukung penilaian yang diberikan.

Dimana data-data pendukung inilah nantinya yang akan memperkuat penilaian kritikus akan suatu karya. Apakah telah sesuai dengan fakta atau belum, dan sebagainya.

  1. Kritik yang disampaikan tidak hanya mengungkap kelemahan, tetapi harus seimbang dengan kelebihannya.

Saat mengkritisi sebuah karya sastra, seorang kritikus yang bijak juga wajib untuk tak sekadar mengungkap kelemahan karya tersebut, tetapi juga mengangkat kelebihannya. Dengan kata lain, kelemahan dan kelebihan harus seimbang.

  1. Jika diperlukan, kritikus menggunakan kajian teori yang relevan untuk mendukung penilaiannya.

Kajian teori yang relevan diperlukan untuk mendukung penilaian seorang kritikus akan suatu karya tertentu.

 

F.      Menganalisis Sistematika dan Kebahasaan  Kritik dan Esai

Teks kritik dan esai secara umum juga memiliki kaidah kebahasaan yang hampir sama dengan teks eksposisi.

  1. Menggunakan pernyataan-pernyataan persuasif.

Contoh:

a.       Oleh karena itu, berhadapan dengan novel model ini, kita (pembaca) mesti memulainya tanpa prasangka dan menghindar dari jejalan pikiran yang berpretensi pada sejumlah horison harapan. Bukankah banyak pula novel kanon yang peristiwa-peristiwa awalnya dibangun melalui narasi yang lambat?

b.      Rangkaian kalimat panjang yang melelahkan itu, diolah dalam kemasan yang lain sebagai alat untuk membangun peristiwa. Wujudlah rangkai peristiwa dalam kalimat-kalimat yang tidak menjalar jauh berkepanjangan ke sana ke mari, tetapi cukup dengan penghadiran dua sampai empat peristiwa berikut berbagai macam latarnya.

  1. Menggunakan pernyataan yang menyatakan fakta untuk mendukung atau membuktikan kebenaran argumentasi penulis/penuturnya. Mungkin pula diperkuat oleh pendapat ahli yang dikutipnya ataupun pernyataanpernyataan pendukung lainnya yang bersifat menguatkan.
  2. Menggunakan pernyataan atau ungkapan yang bersifat menilai atau mengomentari.
  3. Menggunakan istilah teknis berkaitan dengan topik yang dibahasnya.
  4. Menggunakan kata kerja mental. Hal ini terkait dengan karakteristik teks eksposisi yang bersifat argumentatif dan bertujuan mengemukakan sejumlah pendapat. Kata kerja yang dimaksud, antara lain, memendam  mengandalkan, mengidentifkasi, mengingatkan, menegaskan, dan menentukan.

Contoh:

a.       Sebuah novel yang juga masih memendam semangat eksperimen.

b.      Dengan hanya mengandalkan sebuah alinea dan 21 kalimat, Eka bercerita tentang sebuah tragedi pembantaian yang terjadi di negeri antah-berantah (Halimunda).

c.       Kadang kala muncul di sana-sini pola kalimat yang mengingatkan kita pada style penulis Melayu Tionghoa.

d.      Tiap kali kita memang bisa mengidentifkasinya dari sebuah topeng kelelawar yang itu-itu juga.

e.       Sebab itu Batman bisa bercerita tentang asal mula, tapi asal mula dalam posisinya yang bisa diabaikan: wujud yang pertama tak menentukan sah atau tidaknya wujud yang kedua dan terakhir.

f.       Yang ada adalah simulacrum–yang masing-masing justru menegaskan yang–beda dan yang–banyak dari dan ke dalam dirinya, dan tiap aktualisasi punya harkat yang singular, tak bisa dibandingkan.

Selain mengikuti kaidah kebahasaan teks eksposisi secara umum teks esai memiliki karakter khas yaitu gaya bahasa berupa pilihan kata, struktur kalimat, dan gaya penulisannya merupakan hal yang berkaitan erat dengan penulis esai secara pribadi. Setiap penulis esai, memiliki gaya bahasa yang khas yang membedakannya dengan penulis esai yang lain. Sebagai contoh, esai yang ditulis Gunawan Muhammad pasti berbeda dengan gaya bahasa esai yang ditulis oleh A.S. Laksana, Bakdi Sumanto, dan Umar Kayam. Bahkan bagi penikmat esai, ketika membaca satu paragraf teks esai tanpa nama penulisnya, ia akan dapat menebak siapa penulisnya.

Artikel

 

A.    Pengertia Artikel

Artikel adalah karangan berisi fakta dan opini yang dibuat untuk dipublikasikan di media cetak maupun media sosial. Artikel bertujuan untuk menyampaikan gagasan dilengkapi data dan fakta yang disajikan dalam bentuk tulisan. Sebuah artikel dapat meyakinkan, mendidik, dan menghibur pembaca.

 

B.     Struktur Artikel

Secara umum, struktur artikel terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pembuka, isi, dan penutup.

  1. Bagian pembuka berisi orientasi (tahap pengenalan) terhadap isi artikel yang akan dibahas.
  2. Bagian isi merupakan uraian penjelasan pokok permasalahan yang dibahas dalam artikel.
  3. Bagian penutup, yaitu sebuah simpulan yang berisi kalimat kunci yang merangkum pembahasan ke dalam bentuk ringkas dan jelas.

 

C.     Jenis Artikel

Berdasarkan cara penyampaian dan tingkat kesulitan, artikel dibedakan menjadi empat macam.

  1. Artikel praktis, yaitu artikel yang mengutamakan keterampilan daripada pengembangan pengetahuan. Artikel ini cenderung naratif, artinya pesan yang disusun sesuai dengan urutan waktu, peristiwa, atau tahapan.
  2. Artikel ringan membahas masalah yang ringan dan tidak membutuhkan pemahaman yang mendalam. Biasanya, penulis mengemas artikel ini dengan humor atau memberi kesan menghibur pembaca, tapi isinya tetap informatif.
  3. Artikel opini, secara umum semua artikel adalah opini. Tetapi jenis artikel ini hanya ada di dalam surat kabar atau majalah yang punya penempatan khusus. Penempatan khusus ini seperti di pojok, kolom, tajuk rencana, dan lain-lain. Artikel ini biasanya membahas suatu permasalahan secara mendalam, jadi penulis harus sudah ahli di bidangnya.
  4. Artikel analisis ahli ini lebih berat dari artikel lainnya. Artikel jenis ini berisi laporan sistematis mengenai hasil kajian atau penelitian, misalnya skripsi, tesis, disertasi atau penelitian lainnya. Ciri khasnya yaitu penyajiannya yang tidak panjang lebar tetapi tidak mengurangi nilai keilmiahannya. Biasanya artikel ini dimuat pada jurnal-jurnal ilmiah. Bedanya, artikel lain biasa menggunakan bahasa populer, sedangkan artikel ini harus memakai bahasa baku atau ilmiah. Beberapa orang menyebutnya artikel ilmiah.

 

D.    Mengevaluasi Informasi, Baik Fakta Maupun Opini dalam Sebuah Artikel yang Dibaca

Di dalam artikel majalah atau surat kabar, kamu akan menemukan fakta dan opini yang disajikan secara beriringan. Oleh karena itu, kamu harus cermat agar dapat membedakannya. Berikut adalah pengertian dari fakta dan opini.

  1. Fakta adalah kenyataan atau peristiwa yang benar-benar ada atau terjadi.

Dalam sebuah artikel, fakta biasanya didapat dari tiga sumber, yaitu:

a.       Fakta dari peristiwa yang benar-benar terjadi atau nyata.

b.      Fakta dari hasil riset sebuah lembaga atau seseorang yang kompeten di bidangnya.

c.       Fakta dari pendapat seseorang yang kompeten dan kredibel, berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukannya terhadap sebuah peristiwa.

 

Ciri-ciri kalimat fakta :

a.       Kalimat fakta berisi fakta yang kebenarannya yang dapat dibuktikan dan diverifikasi oleh siapa pun.

b.      Kalimat fakta berisi informasi atau data yang akurat mengenai sebuah kejadian, seperti waktu kejadian dan lokasi kejadian.

c.       Kalimat fakta bersifat objektif, artinya data yang ditampilkan benar-benar sesuai kenyataan, tidak dibuat-buat, tidak memihak, dan tidak dipengaruhi pandangan pribadi atau subjektivitas penulisnya.

d.      Kalimat fakta biasanya dapat menjawab 5W + 1H (what, where, when, who, why, dan how).

e.       Kalimat fakta biasanya disertai data angka yang menunjukkan statistik atau jumlah sebenarnya dalam sebuah kejadian. Contohnya seperti dalam kalimat “Jumlah pasien virus corona COVID-19 di Indonesia bertambah sebanyak 55 kasus pada Rabu (18/3/2020) malam. Hingga Kamis (19/3/2020) pukul 10.00 WIB hari ini, total pasien yang positif COVID-19 di Indonesia menjadi 227 kasus dengan 11 sembuh dan 19 meninggal”.

 

 

 

  1. Opini adalah pendapat, pikiran, atau pendirian seseorang terhadap sesuatu.

Berbeda dengan kalimat fakta yang mengandung kebenaran yang sudah terbukti, kebenaran dalam opini belum terbukti. Itu karena kalimat opini mengandung pendapat, pandangan, gagasan, sikap, saran atau solusi penulis terhadap sebuah masalah atau kejadian yang sedang dibahas dalam artikelnya. Sekalipun demikian, bila sebuah opini pada akhirnya terbukti kebenarannya, maka opini tersebut berubah menjadi fakta.

 

Opini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

a.       Opini individu atau perorangan.

Opini ini merupakan gagasan atau opini yang dikemukakan oleh individu atau satu orang. Misalnya dalam kalimat “Sepertinya malam nanti akan hujan deras.”

b.      Opini umum. Opini yang kedua merupakan opini yang gagasan atau pendapatnya diakui oleh banyak orang. Misalnya dalam kalimat “Sering mandi di malam hari bisa menyebabkan rematik.”

 

Untuk dapat membedakan kalimat opini dari kalimat fakta, kamu bisa memperhatikan ciri-ciri kalimat opini. Berikut merupakan ciri-ciri kalimat opini.

a.       Kalimat opini tidak dapat atau belum dapat dibuktikan kebenarannya.

b.      Kalimat opini bersifat subjektif, yang biasanya diikuti pendapat, saran, dan uraian yang menjelaskan pandangan penulis terhadap suatu masalah atau kejadian.

c.       Kalimat opini didasarkan pendapat pribadi, tidak berdasarkan narasumber yang kompeten dan kredibel.

d.      Kalimat opini berisi tanggapan penulis atas sebuah masalah atau kejadian.

e.       Kalimat opini menunjukkan peristiwa yang belum pasti terjadi.

f.       Kalimat opini biasanya menggunakan kata-kata yang sifatnya tidak pasti. Contohnya : mungkin, rasanya atau sepertinya.

g.      Kalimat opini juga biasanya menggunakan kata-kata yang sifatnya memberi saran atau solusi. Contohnya : seharusnya atau sebaiknya.

 

 

 

 

 

E.     Menyusun Opini dalam Bentuk Artikel

  1. Mengungkapkan Opini dalam Bentuk Kalimat yang Benar

Sebelum menyusun sebuah opini dalam bentuk artikel, ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain struktur artikel opini, argumentasi, dan bahasa yang digunakan.

a.       Struktur artikel opini

Artikel diawali dengan pernyataan pendapat (thesis statement) atau topik yang akan dikemukakan. Selanjutnya, mengemukakan beberapa argumentasi tentang pendapat atau pandangan terhadap masalah yang dikemukakan. Pada bagian ini disebut argumentasi (arguments). Bagian akhir artikel berisi pernyataan ulang pendapat (reiteration), yakni penegasan kembali pendapat yang telah dikemukakan agar pembaca yakin dengan pandangan atau pendapat tersebut.

b.      Argumentasi

Bagian terpenting dalam artikel opini adalah argumentasi.

Argumentasi yang dikemukakan harus kuat. Artinya argumentasi harus didukung data aktual karena artikel opini pada umumnya bersifat aktual yang berisi analisis subjektif terhadap suatu permasalahan.

Argumentasi yang dibangun harus konstruktif agar pesan dalam tulisan dapat diserap secara baik oleh pembaca. Kemudian berikan solusi yang komprehensif.

c.       Penggunaan bahasa

Bahasa dalam artikel bersifat ilmiah populer, berbeda dengan bahasa ilmiah pada umumnya. Penggunaan bahasa penting untuk diperhatikan untuk melihat sasaran pembacanya. Kecenderungan pembaca teks artikel adalah membaca tulisan yang tidak terlalu panjang, mudah dibaca, dan mudah dipahami. Oleh karena itu, pada saat membuat opini, gunakan bahasa yang komunikatif, tidak bertele-tele, dan ringkas penyajiannya.

Dalam menggali gagasan dan argumentasi, gunakanlah kalimat yang efektif, efsien, dan mudah dimengerti. Jika menggunakan istilah asing atau bahasa daerah, buatlah padanan kata dalam bahasa Indonesia.

 

  1. Menyusun Opini dalam Bentuk Paragraf

Dalam bentuk tulisan, suatu opini sebenarnya mudah dikenali. Berikut adalah penanda-penanda opini dalam suatu paragraf.

a.       Menggunakan kutipan kata-kata seseorang, biasanya ditandai dengan adanya tanda baca petik dua (”. . . .”).

b.      Menggunakan sudut pandang penulis dalam bentuk penafsiran terhadap fakta.

c.       Menggunakan kata yang tidak pasti (mungkin, rasanya, dll).

d.      Menggunakan kata yang bertujuan menyampaikan sesuatu (sebaiknya, saran, pendapat, dll).

Inti dari paragraf opini adalah dapat ditemukan kata atau kalimat yang menunjukan bahwa itu adalah sebuah pendapat pribadi ataupun pandangan seseorang yang belum tentu benar, hanya berdasarkan pemikiran seseorang.

 

Berikut adalah contoh menyusun opini dalam bentuk paragraf.

Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata merupakan novel yang sangat bagus. Novel ini memberikan kesan yang sangat mendalam dan melibatkan emosi para pembacanya. Tak hanya itu, novel ini juga memberikan pengalaman kepada pembacanya seolah-olah mereka ikut terlibat di dalam cerita tersebut. Terlebih lagi, novel ini juga sangat dicintai para pecinta novel karena mengangkat budaya lokal. Mereka menganggap bahwa Laskar Pelangi merupakan karya terbaik Andrea Hirata. Tak heran novel ini laku keras di pasaran.

 

Materi Kelas X TP dan TBSM

MENDALAMI PUISI Sumber: https://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/03/rendra1.jpg Dengan mempelajari pelajaran 8 ini, kam...